The Optimism Bias

kenapa kita merasa hal buruk hanya akan terjadi pada orang lain bukan pada kita

The Optimism Bias
I

Pernahkah kita melihat berita kecelakaan mengerikan di televisi, merasa kasihan sejenak, tapi sedetik kemudian kita ngebut di jalan tol tanpa rasa takut sedikit pun? Atau mungkin, kita sangat paham bahwa makan gorengan setiap hari itu jalan tol menuju penyakit jantung. Namun kita tetap mengunyahnya dengan santai, merasa bahwa penyakit macam itu tidak akan menyentuh tubuh kita. Kenapa kita sering merasa kebal dari nasib sial? Ini bukan sekadar kebetulan atau keangkuhan semata. Ada semacam glitch atau eror di dalam otak kita yang membuat kita selalu merasa menjadi karakter utama di sebuah film, yang tentu saja, tidak mungkin mati di pertengahan cerita.

II

Dalam dunia psikologi, fenomena unik ini memiliki nama resmi: the optimism bias atau bias optimisme. Ini adalah kecenderungan otak kita untuk melebih-lebihkan kemungkinan mengalami hal baik, dan di saat yang sama, meremehkan kemungkinan tertimpa hal buruk. Ini bukan sekadar masalah satu atau dua orang yang terlalu percaya diri. Sejarah menunjukkan ini adalah ilusi massal. Mari kita renungkan sejenak para prajurit di Perang Dunia I. Secara statistik, mereka tahu rasio kematian di parit pertahanan sangatlah tinggi. Namun dari ribuan surat yang dikirimkan ke rumah, mayoritas dari mereka sangat yakin akan pulang dengan selamat. Kita sering merasa perceraian, kebangkrutan, atau penyakit kronis adalah tragedi eksklusif yang hanya menimpa "orang lain". Kita merasa kita adalah pengecualian dari statistik. Pertanyaannya, mengapa otak kita yang konon merupakan struktur paling cerdas di alam semesta ini, malah membohongi kita sendiri?

III

Mari kita bedah ini dengan kacamata evolusi, dan teman-teman akan melihat keanehannya. Logikanya begini: kalau nenek moyang manusia purba kita terlalu optimis, mereka pasti sudah punah dimakan harimau saber-toothed. Manusia yang berpikir, "Ah, harimau itu tidak akan mengejar saya," jelas tidak akan selamat untuk mewariskan gennya. Secara evolusi, menjadi over-optimis itu sangat berbahaya. Seharusnya, seleksi alam memusnahkan manusia-manusia yang terlalu santai ini dan menyisakan mereka yang selalu cemas dan waspada. Tapi nyatanya, sifat optimis yang tidak berdasar ini malah bertahan selama ratusan ribu tahun di dalam DNA kita. Untuk memecahkan misteri ini, para neuroilmuwan akhirnya memutuskan untuk mengintip ke dalam kepala kita menggunakan mesin pemindai otak fMRI. Apa yang mereka temukan di balik tengkorak kita ternyata sangat mengejutkan. Ada sebuah sirkuit di otak kita yang sengaja "dimatikan" secara sepihak.

IV

Inilah rahasia besarnya. Saat subjek penelitian dihadapkan pada skenario masa depan yang positif, ada area di otak bernama left inferior frontal gyrus yang merespons dengan sangat aktif. Area ini bertugas memproses kabar baik. Tapi giliran mereka diberi data statistik yang buruk tentang risiko hidup mereka, bagian kanan dari area otak tersebut tiba-tiba menjadi sangat malas dan tidak responsif. Otak manusia secara biologis menyensor informasi buruk. Lalu, kenapa evolusi membiarkan kecacatan ini? Jawabannya sungguh indah: karena optimisme adalah pelumas peradaban. Kalau manusia purba tahu persis betapa berbahayanya keluar dari gua, kita tidak akan pernah menjelajah benua baru atau membangun kota. Secara medis, bias optimisme ini menurunkan tingkat stres, mengurangi hormon kortisol, dan secara harfiah membuat sistem imun kita lebih kuat. Ilusi kebal dari kesialan ini ternyata bukanlah kebodohan, melainkan mekanisme pertahanan hidup yang sangat brilian.

V

Tentu saja, membiarkan bias ini menyetir hidup kita sepenuhnya punya harga yang mahal. Ilusi inilah yang sering kali membuat kita enggan menabung untuk hari tua, malas memakai sabuk pengaman, atau merasa tidak butuh asuransi kesehatan. Namun, menyadari bahwa kita memiliki blind spot ini adalah langkah pertama menuju kedewasaan berpikir. Kita tidak perlu bersikap sinis atau mematikan rasa optimis tersebut. Kita hanya perlu meminjam sedikit rasionalitas saat harus mengambil keputusan-keputusan besar yang krusial. Pada akhirnya, ilusi bahwa "semua akan baik-baik saja" itulah yang membuat kita, teman-teman sekalian, berani bangun dari tempat tidur setiap pagi untuk menghadapi dunia yang penuh ketidakpastian. Bias ini mungkin membuat kita sedikit naif, tapi di saat yang sama, ia memastikan kita tetap menjadi manusia yang selalu punya harapan.